Jumat, 11 Desember 2015

Hari Akhir Bersamanya

Ini cerpen karya saya

Hari terakhirku bersamanya
Karya : Ayu Kholimah

Rasanya pagi hari ini aku tak ingin pergi kesekolah,rasa sangat malas dan rasa gelisah teraduk menjadi satu didalam hatiku,tetapi yang aku inginkan pagi ini hanyalah duduk disamping Ayahku yang terbaring sakit.
“Cika ayo cepet berangkat,nanti telat loh.”perintah Ibu Cika yang berjalan sambil membawa tas anak kesayangannya itu.
“Aku gak pengen sekolah tapi aku pengen menemani Ayah saja Bu! kasihan tau Bu,Ayah nanti gak ada yang jaga” jawab Cika dengan rasa lesu.
.“Halah,ayo cepet berangkat sana,nanti Ayah yang jagain Ibu sama Kakak,udah sana berangkat,hati-hati loh ya !” perintah Ibu untuk yang kedua kalinya.
“Iya Bu,aku berangkat dulu,Assallamuallaikum” berpamitan,dengan berjalan terburu-buru.
“Wa’allaikumsallam” jawab ibu dengan rasa aneh,melihat sikap dan perilaku anaknya hari ini.
***
Sesampainya disekolah aku bersama teman-temanku langsung masuk kelas dan melaksanakan progam KBM dikelas,tiba-tiba hati aku kaget dan teringat akan Ayahku entah kenapa bayanganku selalu ada Ayahku.Aku takut dengan  apa yang terjadi pada Ayahku.Tuhan,apa yang terjadi pada Ayahku? Aku mohon lindungi dia Tuhan.
***
Teng teng teng, tak terasa bel istirahat telah berbunyi Cika dan teman-temannya langsung pergi kekantin untuk makan bersama.
“Cik,makanannya kok cuma diaduk-aduk,cepet dimakan dong keburu diabisin lalat tuh,atau aku makan aja ya,hehehe !!!! ”kata Reni mengejek.
Cika hanya terdiam saja tak ada isyarat untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
“Cika,kamu kenapa?” Tanya Cinta lemah lembut.
“Aku gak tau kenapa, yang selalu aku pikirin Ayah,Ayah dan selalu Ayah sampai tadi waktu pelajaran aku gak bisa fokus,aku bingung kenapa hari ini pikiranku selalu Ayahku” jawab Cika dengan rasa  bingung dan sedih.
“Memang Ayahmu sedang punya masalah?” tanya Cinta.
“Tidak ada Cin,tetapi hari ini penyakitnya tambah parah Cin,matanya udah benar-benar gak berfungsi lagi,selain itu Ayahku juga mengidap diabetes dan kencing manis.Tapi,yang paling membuat aku sedih yaitu saat Ayahku tak mau dibawa ke Rumah Sakit padahal dirinya sudah tak berdaya lagi.”Matanya sudah berkaca-kaca menceritakan keaadaan Ayahnya saat ini.
“Yang sabar ya Cik,positif thinking saja doa’akan yang terbaik untuk Ayahmu.”pinta Cinta menenangkan hati Cika.
Teng teng teng,tak lama aku bersama kawan-kawanku dikantin bel masuk setelah istirahat pun telah berbunyi kami langsung masuk kelas.Tiba-tiba bel audio dalam kelasku memberi sebuah pengumuman bahwa aku harus segera pulang kerumah karena aku sudah dijemput oleh kerabatku yang akan diajak pergi kesuatu tempat.Kala saat itu,aku merasa senang karena aku akan diajak pergi oleh keluargaku.
“Aku pulang dulu ya semuanya.”kat Cika semangat.
“Iya,hati-hati loh dijalan.”jawab teman-temannya.
Aku bingung kenapa Pamanku menjemputku untuk diajak bepergian saat masih jam pelajaran,ini semakin menjadi tanda tanya bagiku.
“Paman sebenarnya nanti kita mau pergi kemana ?” tawa Cika.
“Ya,nanti kita akan pergi kesuatu tempat.” jawab Pamanku dengan tatapam sedih.
“Loh,Paman kok sedih ? ada apa ?” tanya Cika bingung.
“Paman,gak kenapa-kenapa.Cepat naik kemotor.”perintah Paman.
“Iya.”
Dalam perjalanan pulang hatiku resah,sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Paman,tapi aku tak tahu apa.
“Oh Tuhan,apa Ayahku telah tiada ? ataukah dirinya kritis ? ataukah apa ?”suara hati Cika.

Sampai dirumah,aku bingung kenapa banyak orang yang pergi kerumahku? Kenapa ada bendera kuning dipasang didepan rumahku ? siapa yang meninggal ? apa benar perasaan yang tidak karuan tadi pagi ini adalah akhir dari semua ini ? oh Tuhan benar dugaanku Ayahku kini telah tiada.
“Ayah bangun,Cika disini menemani Ayah,Ayah gak boleh pergi.”panggil Ayah Cika yang sudah terbujur kaku diatas lantai yang dibungkus dengan kain putih.
“Cika,sudah relakan Ayahmu nak.”Ibu Cika yang mememeluk Cika menenangkan hati anaknya itu.
“Aku gak mau kehilangan Ayah,Ayah adalah segalanya bagiku Bu’,kenapa Ayah harus pergi disaat aku ingin menghabiskan waktu remajaku ? Apa Ayah sudah tak sayang sama Cika ?” rintihan suara Cika dengan air mata yang mengucur deras dipipinya.
“Ayah bukan tak sayang sama Cika tapi ini semua sudah kehendak Tuhan,jadi terima apa adanya.Cika gak boleh nangis lagi ya do’ain Ayah supaya tenang dialamnya.”nasehat Ibu Cika.
“Iya Bu,Cika gak akan menangis lagi.Cika harus jalani hidup tanpa Ayah dengan semangat baru.”pinta Cika sambil mencium kening mayat Ayahnya yang akan segera dimakamkan.
“Sabar ya nak,kamu pasti kuat kok kamu nanti juga bisa ketemu kok sama Ayah dimimpi ataupun ketemu langsung dialam sana.”memeluk anaknya yang menangis melihat Ayahnya sudah diberangkatkan.
Mungkin benar apa yang dikatakan Ibu.Mungkin suatu saat aku bisa bertemu dengan Ayah kembali dalam mimpi.Andaikan itu semua benar aku akan mengatakan semuanya tentang apa yang aku rasakan saat masih hidup dan aku juga akan mengatakan padanya bahwa dialah satu-satunya Ayah yang pernah menjadikan hidupku sebagai hal terindah.Karena mungkin,ketika kesempatan bertemu itu datang aku telah memiliki kata-kata indah untuknya.